BIKIN KAGET, Alasan Yusril Ihza Gabung Jokowi Ma'ruf Menohok  Kubu Prabowo-Sandi

Rabu, 07 November 2018 | 03:09:52 WIB
Yusril Ihza Mahendra

JAKARTA (RIAUSKY.COM)- Pengacara kondang sekaligus Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra akhirnya buka cerita terkait alasan dia meninggalkan pasangan Prabowo-Sandiaga Uno.

Bukan tanpa alasan, Yusril mengaku kalau selama ini pihaknya tidak pernah mendapatkan jawaban dari kubu Prabowo-Sandi tentang apa yang akan didapatkan bila mendukung pasangan yang didukung Gerindra, PAN dan PKS tersebut.

Yusril juga tidak menafikan, kalau pernah ada ajakan dari tim Koalisi Prabowo-Sandi Uno untuk bergabung. Tepatnya sekitar 3 bulan lalu, tak lama setelah deklarasi pencalonan. 

Saat itu, kata Yusril, Sandiaga dan Waketum Gerindra, Ferry Juliantono yang datang langsung mengajak bergabung. Namun, dia tak pernah mendapat jawaban apa yang akan diperoleh PBB bila bergabung. 

"Saya katakan, kami kan PBB dulu sudah pernah bantu Pak Prabowo ya, kita sudah bantu Pak Sandi maju gubernur DKI. Wagub DKI. Kami punya kepentingan juga nih kita berhasil lolos empat persen ke dalam DPR," ungkapnya.

"Jadi kalau kami membantu Pak Prabowo-Pak Sandi apa yang sebaliknya bisa dibantu oleh Pak Prabowo dan Pak Sandi kepada kami. Tapi tidak ada jawaban," sambungnya.

Dalam kesempatan itu, Yusril  juga menjelaskan memutuskan menolak bergabung dengan Prabowo-Sandi karena kecewa. Salah satunya alasannya, dia menilai ada kesan Prabowo-Sandi hanya ingin menguntungkan timnya sendiri, dan bukannya menganut sistem 'take and gift' atau timbal balik dalam koalisi.

Selama ini, lanjutnya, tim Prabowo-Sandi tidak pernah merespon keinginannya. Bahkan setelah adanya draf aliansi yang dikeluarkan saat petinggi PBB bertemu Habib Rizieq di Arab Saudi.

"Pak Kaban dan Pak Afriyansah Noor untuk bertemu Habib Rizieq ya dan membahas hal yang sama dan setelah itu mereka menyusun draf aliansi partai-partai dan itu diajukan ke Pak Prabowo, tapi sampai hari ini juga enggak ada respon," ungkapnya.

Menurut Yusril, seharusnya dalam koalisi ada timbal balik yang sesuai. Pasalnya ia akan meluangkan banyak waktu untuk memenangkan Prabowo-Sandi.

"Kalau saya diminta menjadi tim suksesnya Pak Prabowo-Pak Sandi saya kan akan all out kampanye siang malam mengkampanyekan pak Prabowo-Pak Sandi, tapi harus diingat saya juga jadi caleg di Jakut. Kan bakal habis waktu saya untuk kampanye Pak Prabowo-Pak Sandi," ujarnya.

Dia menilai, Prabowo sebagai pimpinan koalisi seharusnya berbicara pada semua partai koalisinya untuk bisa sama-sama memenangkan Pileg dan Pilpres bersamaan. Hal itu, kata dia, baru disebut sebagai timbal balik.

"Tapi apakah partai koalisinya juga ya semuanya bisa masuk ke parlemen itu baru namanya kita saling berkerja sama, tapi kalau cuman kami diminta bantu bapak, bapak enggak mau bantu kami gimana jadinya. Tentu tidak pernah ada jawaban waktu itu jawaban Pak Sandi dan Pak Ferry ya nanti kami akan bicarakan sama Pak Prabowo tapi sampai hari ini tidak pernah ada jawaban," ucapnya.
 

Terkini